Showing posts with label writing. Show all posts
Showing posts with label writing. Show all posts

Monday, November 12, 2012

Long List Tahap II - Anugerah Pembaca Indonesia 2012



Read more!

Sunday, November 11, 2012

Meet Cute - Part 5




Aku tahu bahwa semua orang waras di dunia ini yang bekerja menjadi corporate slave pasti mendambakan datangnya hari jumat. Simply karena akan mendapatkan dua hari libur setelah hari jumat. Makanya ada istilah TGIF atau Thank God It’s Friday. Dan buatku, biasanya penantian akan hari Jumat itu dimulai sejak...hari Senin. Hehehe.
Khusus untuk minggu ini, rasa nggak sabarku supaya hari Jumat datang semakin berlipat ganda. Tripel malahan.
Terutama ketika pagi ini aku melihat poster charity day-nya PetroWorld di lobby gedung. Ada dua perempuan yang sedang berdiri sambil bergosip di depannya. Aku mengenali salah satunya sebagai Mariska—cewek bawel yang kerja di kantor akuntan satu lantai di bawah Flash Box. Tangannya menunjuk-nunjuk poster tersebut sambil ngikik genit. Ih, ngeliatnya aja udah sebel.
“Hey, Vix!” ia melambaikan tangan ketika melihatku berjalan ke arahnya. “Udah lihat ini belum?”
Aku tersenyum dengan terpaksa. Males banget nih basa-basi dengan Mariska. Bukan apa-apa, dia seneng banget ngoceh dan ngegosip, dan genitnya minta ampun. Biasanya aku menghindari berinteraksi dengan dia kalau nggak sengaja ketemu.
“Apaan itu?” aku pura-pura nggak tahu.
“PetroWorld ngadain charity day! Tahun ini temanya—” dia melirik poster di sampingnya. “—speed date for charity.”
Aku mengangkat alis. Seolah-olah nggak tertarik. “Terus?”
Dia menatapku dengan euforia yang luar biasa. Matanya berbinar-binar. “Kita bisa ngedate sama cowok-cowok PetroWorld!!”
Cowok-cowok? Maksudnya plural gitu? Ini kayaknya aku harus membaca ulang terms and condition dari event ini deh. Katanya Tita ini bidding, kok bisa-bisanya si Mariska bilang ngedate dengan banyak cowok?
Aku melangkah untuk melihat posternya dengan lebih dekat.




Aku membaca kata-kata dalam poster tersebut dan mengingat-ingat contact person yang bisa dihubungi. Nanti mau aku email ah, mau nanya-nanya.
“Lo ikutan, Vix?” Mariska menepuk bahuku dengan bersemangat. “Are you looking for love?” Mariska membaca kata-kata yang terdapat di poster tersebut. “YA IYALAH..!! SIAPA JUGA YANG NGGAK NYARI CINTA HARI GINI??”
Aku meng-ssshhhh-kan Mariska supaya suaranya jangan keras-keras. Ya kali, kalau emang ternyata emang beneran nyari cinta nggak usah sampai seluruh dunia tau.
“Are you in, Vix?” ia mengibaskan rambutnya ke belakang dengan percaya diri. Tanpa menunggu jawabanku ia melanjutkan kata-katanya, “I’m so in! Lo tau nggak sih kalau ada anak PetroWorld yang emang udah gue incar dari dulu. Cuma belom kenalan aja. Tapi gue yakin kalau dia pasti bakalan ikutan acara ini. Oh my gosh, Vix. He’s soooooo hot. Kayak oven dengan suhu 250 derajat.”
Aku memandangnya dengan skeptis.
Mariska memiliki tendensi untuk melebih-lebihkan segala sesuatu. Kalau dia bilang cowok ini bersuhu 250 derajat, aku yakin mungkin aslinya hanya 30 derajat.
Sambil mengangguk-angguk, aku tersenyum tipis. “Good luck yah kalau  gitu.” Aku siap-siap berjalan menuju antrian orang yang akan naik lift.
“Hey Vix, lo sama Tita ikutan, kan?”
Lagi-lagi aku hanya nyengir. “Heheheh...”
“Lo harus lihat si cowok itu, Vix. Dia kayak cowok-cowok yang keluar dari iklan Abercrombie and Fitch. Yummy banget!!”
Aku mengangkat alis. “Oh ya?” aku nggak kenal banyak orang di PetroWorld, tapi seharusnya kalau ada jenis spesies kayak gitu, pasti aku pernah melihatnya dong di gedung ini. Pas lagi ngapain gitu. Satu-satunya yang mungkin cocok dengan deskripsi Mariska ya Cuma Ilham. Itu juga karena aku cuma tahu Ilham. Dan Zakki, temannya Tita.
“Iya. Waktu itu gue ketemu di Starbucks. Awww, dia keren bangettt. Sengaja gue duduk di depan dia, penasaran liat ID Cardnya.”
“Terus?”
“Namanya—” ia menarik napas dengan dramatis. “—Ilham Fauzi.”
Rasanya kayak ada bom yang dijatuhkan di kepalaku.
 




Read more!

Friday, October 5, 2012

[short story] Meet Cute - Part 4



Meet Cute – Part 4


“Ebuset, baru tau gue kalau ada charity day model gitu.” Shirin tertawa disela-sela suara gesekan gunting yang memotong rambutnya menjadi pendek. “Dan lo mau ikutan? Emangnya lo mampu nyumbang berapa?” ia kemudian tertawa dengan nggak sopannya.
Aku membalik-balik halaman majalah tanpa tertarik, lalu menjawab pertanyaan Shirin dengan nada bosan. “Yah itu kan bukan bidding kali, nggak perlu tinggi-tinggi. Beli tiket aja udah bisa speed dating sama dia.”
“Seriously?” Shirin mengangkat sebelah alisnya dengan tertarik. “Kalau emang ternyata itu cowok sekeren yang lo bilang, gue mau ikutan juga dong.”
“Heh!” aku menatapnya tajam. “Finder’s keeper. Gue duluan yang nemuin!”
Shirin tertawa lebih keras. Untung aja kanan-kirinya lagi kosong, kalau nggak kasihan yang lain. Tawa Shirin itu supermengganggu.
Aku menambahkan, “Kalau lo mau, lo ikutan bidding aja gih. Pemenangnya makan malam satu jam sama Ilham. I think totally worth it.”
“Lo kenapa ngga ikutan bidding aja?”
Aku menggeleng. “Nggak punya uang. Hehehe... Lagian, kalau niatnya emang pengen nyumbang, nyumbang aja, nggak usah pakai embel-embel dinner sama Ilham.”
Shirin menatapku dengan sinis. “Tapi terus lo beli tiket untuk speed dating itu namanya apa?”
Aku tersenyum lebar, “Nah, kalau yang itu niatan gue emang kenalan sama Ilham. Charity is just a bonus.”
“Gilak.” Shirin tertawa. Aku ikutan tertawa. “Tapi gila ya, bisa bikin acara kayak gini. Gue pikir yang kayak gini hanya ada di film atau novel-novel.”
“Kadang ya Rin, batas antara fiksi dan realita itu tipiiisss banget.”
“Udah. Nggak usah sok filosofis—” Kata-kata Shirin terhenti ketika ada orang yang menghampiri.
Kayaknya petugas parkir di depan.
Si bapak itu bertanya, “Mbak yang punya Honda Jazz warna biru di depan ya?”
Aku mengalihkan pandangan dari majalah yang sedang kubaca ke arah petugas parkir salon yang sedang bertanya kepada Shirin.
Shirin mengiyakan, dan seolah tahu apa yang berikutnya akan keluar dari mulut si petugas parkir, ia menoleh ke arahku dan nyengir lebar. “Pretty please, Vix?”
Ini nih salah satu alasan kenapa Shirin memintaku menemaninya potong rambut. Untuk mindahin mobilnya kalau menghalangi mobil lain yang mau keluar. Shirin suka nggak percaya kepada petugas parkir untuk memindahkan mobilnya. Kayaknya ada pengalaman buruk.
Aku mencibir tapi nggak urung meletakkan majalah yang sedang aku baca ke atas meja dan berdiri. “Sekalian gue mau beli Quickly di depan. Lo mau nggak?”
Shirin melirikku sambil tersenyum lebar. “Mau laahh. Choco Taro ya.”
Aku mengambil kunci mobil yang ada di atas meja dan beranjak pergi. Baru beberapa saat melangkah, Shirin berkata dengan suara agak keras, “Esnya minta dikit aja, ya!”
Aku mengabaikannya dan berjalan menuju pintu keluar. Ketika sudah sampai di halaman parkir, aku mencari petugas yang tadi menghampiri kami ke dalam salon.
Oh itu dia.
Sambil berjalan menuju mobilnya Shirin, aku bertanya kepada si petugas parkir. “Yang mana yang mau keluar, mas?”
Si petugas menunjuk sebuah Toyota Yaris berwarna gelap yang parkir di depan mobil Shirin. “Itu mbak.”
Aku mengernyit. “Kok nggak ada orangnya?”
Logikanya, kalau udah nyuruh orang untuk mindahin mobil karena dianggap menghalangi jalan keluar, seharusnya pengemudi mobil tersebut sudah siap sedia untuk mindahin mobilnya juga. Jadi ketika aku mundurin mobil, dia udah siap keluar, dan aku gantian mengisi slot parkirnya.
Aku berdiri di samping mobil Shirin dan memencet tombol unlock pada remote ketika pintu salon terbuka dan—
Holy shit.
Yang barusan keluar dan berjalan tepat ke arahku adalah Ilham-si-cowok-yang-aku-tumpahin-kopi-tadi-pagi.
Ia masih mengenakan pakaian yang sama seperti tadi pagi—tanpa jas yang mungkin sekarang sudah masuk laundry—hanya saja lengan jasnya digulung sampai siku, membuatnya terlihat lebih kasual.
Ia menekan tombol pada remote untuk meng-unlock mobilnya, namun sebelum menarik handle pintu, ia menoleh ke arahku. Ke arah mobil Shirin yang menghalangi jalan lebih tepatnya.
Pandangannya berhenti di arahku. Ia sedikit mengernyitkan kening ketika menyadaro aku sedang berdiri di sisi mobil, lalu dengan canggung melambaikan tangan dan tersenyum kikuk ke arahnya.
“Halo.” Kataku tanpa bersuara. Masih nggak berkedip karena terlalu terpukau.
Kok aku nggak liat dia di dalam sih dari tadi? Well, aku emang nggak merhatiin sekeliling sih dari tadi. Tapi masa aku melewatkan sosok Ilham di dalam?
Dan dari sekian banyak kemungkinan aku bertemu dengan Ilham, kenapa juga aku harus bertemu dengannya di sini? Di lapangan parkir, di—euh, salon? Ini Ilham pergi ke salon? Tapi ngapain coba? Cowok-cowok yang aku kenal jarang banget datang ke salon, untuk potong rambut mereka biasanya ke barbershop. Well, kecuali kalau cowok itu—OKE. BAIKLAH. Aku mulai melantur.
Ilham balas melambaikan tangan sambil berkata, “Hai.” Ia menunjuk mobil Shirin. “Itu mobil kamu?”
Aku mengangguk. “Maaf ya ngehalangiin jalan.”
Ilham tersenyum, lalu sedikit mengangguk menandakan bahwa dia nggak terganggu. “Tukar aja. Nanti habis saya keluar, kamu parkir disini.” Ia membuka pintu mobilnya.
Aku baru saja hendak membuka mulut untuk mengatakan sesuatu ketika tiba-tiba pintu salon kembali terbuka dan dua orang perempuan berjalan keluar.
Yang satu, dengan rambut bob sebahu, memakai little black dress yang membuatnya terlihat cute. Sedangkan yang satu lagi—sumpah deh, aku minder ngeliatnya. Cantik banget—khas stereotype cantik: rambut panjang, bentuk badan yang bagus, kaki jenjang. Dia memakai dress berwarna merah marun. Aku langsung terlihat seperti anak kecil habis main layangan—dekil, lusuh dan nggak menarik.
Ilham menoleh, mengikuti pandanganku.
Si cewek dengan rambut bob berbicara kepada Ilham, “Ih, udah disuruh ngeluarin mobil biar langsung berangkat juga. Yuk cepetan, aku telat nih.” Lalu ia masuk ke dalam mobil. Si cewek dengan rambut panjang menepuk lengan Ilham sekilas lalu membuka pintu belakang mobil dan masuk ke dalamnya.
Ilham kembali menoleh ke arahku dan tersenyum tipis, “Sorry. Bisa tolong pindahin mobilnya?”
Aku mengangguk lalu menarik pintu mobil hingga terbuka dan membenamkan diri di balik setir dengan hopeless.
Kalau memang ternyata Ilham itu no longer single and available, it should've been illegal for him to walk around like that without some sort of permit.

Read more!

Monday, August 13, 2012

[short story] Meet Cute - part 2

Untuk yang belum baca part 1-nya, silakan mampir dulu ke Meet Cute part 1. Sebuah (rencananya) cerita pendek yang sampai sekarang belum jelas mau kemana, hehehe...

Eh, makasih lho, walaupun belum jelas mau kemana tapi tetap ngebaca ;)) so, here's the second part. 

Happy reading. Semoga suka.



MEET CUTE [part 2]



Aku nggak ingat kapan terakhir kalinya bersikap bodoh kayak barusan. Nggak bisa bergerak dari tempatku berdiri sampai si cowok yang seperti Greek God itu benar-benar menghilang dari pandangan. WELL, OKAAAYYY... aku emang sering banget bertindak bodoh, tapi nggak pernah ada yang sebodoh tadi. Nggak meneteskan air liur aja udah untung. Eh, bener kan, aku nggak sampai drooling? Tiba-tiba aku merasa panik.
“Lo yang numpahin ini ya, Vix?” tiba-tiba Satrio sudah berada di depanku dengan wajah menyelidik.
Aku, mungkin masih dengan tatapan dreamy, menoleh ke arah Satrio. “Hmmm? Kenapa, Yo?”
Tatapan Satrio semakin tajam, “Yang bener aja, Vix?”
Aku memandangnya dengan nggak ngerti. “Yang bener aja apa, Yo?”
Ia mencibir lalu meninggalkanku masuk ke dalam pantry. Nggak lama kemudian ia muncul lagi sambil membawa kain pel dan tanpa banyak berkata-kata langsung membersihkan tumpahan kopiku yang berceceran di lantai.
Aku jadi merasa bersalah. “Maaf ya, Yo.” Tapi selain itu nggak melakukan apa-apa selain berdiri dengan canggung. Ya abisan aku bisa berbuat apa lagi? Nggak mungkin juga kan ngebantuin ngepel?
Aku bisa mendengar ia mendengus sebal. “Iya, nggak apa-apa. Lo bukan orang pertama yang melakukan tindakan bodoh kayak gini.” Setelah lantai bersih, ia kembali masuk untuk meletakkan kain pelnya.
“HAH? Maksudnya?” aku bertanya balik karena nggak mengerti maksud dari pernyataan Satrio barusan. Ketika dia muncul kembali, aku mengulang pertanyaanku. Kali ini dengan nada yang agak pushy. “Maksudnya bukan orang pertama yang numpahin kopi ke lantai dengan nggak sengaja?”
Satrio mengangkat bahu dan menjawab tanpa ekspresi. “Bukan.” Katanya. “Maksud gue, lo bukan orang pertama yang melakukan tindakan bodoh di depan cowok tadi.”
Tiba-tiba aku langsung merasa adrenalinku meningkat dan otakku dipenuhi berbagai macam pertanyaan yang ingin aku lontarkan semuanya sekaligus ke Satrio, seperti siapa nama lengkapnya, kerja dimana, udah nikah belom, kalau belom punya pacar nggak, kalau nggak punya, tipe ceweknya yang kayak gimana. Tapi sayangnya mulutku nggak bisa berbicara secepat otakku berpikir. Maka yang pertama kutanyakan adalah, “LO TAU SIAPA DIA BARUSAN, YO??”
Errr, tapi kok pertanyaanku barusan nadanya terdengar seperti orang yang ngajak berantem ya? Well, harusnya sih Satrio ngerti kalau itu adalah nada excited.
Satrio memandangku seolah-olah aku ini gila atau apa. “Ya iyalah tau. Dia hampir tiap hari beli kopi.’
“Siapa Yo, SIAPAAAA..??”
“Nah. Lo bersikap kayak cewek-cewek lain, deh.”
“HAH? MAKSUDNYA?? Maksud lo udah banyak cewek lain yang histeris kayak gue?”
“Yah menurut looo?” lagi-lagi Satrio mencibir. “Kalau lo orang pertama yang kayak gini, reaksi gue nggak akan sebosan barusan kali.”
HOMAIGATTT. Jadi aku bukanlah orang pertama yang menemukan si Greek God? Oh well, mengingat setiap manusia punya mata, aku bisa berharap apa sih?
“Siapa sih dia, Yo? Masya Allah... gue sampe speechless.”
Satrio tertawa. “Sumpah Vix, dari semua customer gue yang jadi langganan disini, gue paling nggak bisa ngebayangin lo jadi kayak barusan. Dia nggak seganteng itu kali.”
Aku mengibaskan tangan di depan wajahnya sambil mencibir, “Ah, itu sih lo aja jealous sama dia. Kompetisi di antara pria—”
Lagi-lagi Satrio tertawa. Ia kemudian menyela kata-kataku. “Namanya Ilham. Kantornya di PetroWorld. Itu pun gue tau karena liat ID Cardnya tiap kali dia pesan kopi.”
“Oh berarti bener ya.”
“Bener apanya?”
“Oh nggak.” Aku memamerkan senyuman. “Tadi ada yang manggil dia ‘Ilham’ makanya gue menduga itu namanya.”
“Ya menurut lo, Vix?” Satrio melemparkan pandangan nista. “Kalau dia noleh waktu dipanggil, ya itu pasti namanya kali.”
Tapi aku mengabaikan nada sinis di kata-kata Satrio barusan. Well, suasana indah karena nasib baik bisa bertemu Greek God macam Ilham-si-jas-abu-abu-dengan-dada-bidang nggak boleh dikacaukan dengan hal-hal negatif macam pernyataan Satrio barusan. “Terus-terus, Yo? Apa lagi infonya? Dia sering kesini ya? Tiap hari? Tiap jam berapa? Eh, dia kerja di PetroWorld lantai berapa?”
Kalau di komik-komik, aku bisa membayangkan pasti saat ini kepala Satrio kayak dipukul pakai palu godam dan di wajahnya ada tetesan air keringat yang menutupi hampir seluruh muka. Heheheh. Sorry, but I can’t help.
“Lo kepo amat sih, Vix.”
“Ini bukan kepo.” Aku langsung menyanggah. “Ini gue lagi riset.”
Satrio memutar bola matanya seolah berkata ‘yeah-whatever-you-say-but-I-don’t-buy-it’. Ia lalu menatapku dengan serius dan berbisik. “Yang gue tau, namanya Ilham, sukanya caramel macchiato panas, datang kesini nggak tentu jam berapa. For everything else, there’s Google.”
Aku langsung melotot. “Mana bisa nge-googling hanya dengan informasi sesedikit itu?? Nama panjangnya siapa?”
Satrio berlalu dari hadapanku dan menjawab dengan nggak peduli. “Mana gue tau. Banyak hal yang lebih penting untuk gue ketahui dari pada ngapalin nama panjang orang.”
Aku mengikutinya ketika ia berjalan menuju pintu masuk. “Eh Yo, seriusan nih. Kalau dia kesini lagi lo perhatiin deh ya nama panjang di ID Cardnya siapa, terus kalau bisa lo singgung-singgung soal gue, ya. Apa kek gitu. Bilang gue cantik atau apa.”
Okay, kini Satrio nggak lagi memandangku seolah-olah aku gila, tapi kayaknya dia udah yakin bahwa aku ini memang gila. Ia memijit keningnya yang aku tahu sebenernya nggak apa-apa. Dia hanya berlebihan aja. “Karma macam apa yang membuat gue punya customer kayak elo, Vix...”
“Heh! Justru berkah kali punya customer kayak gue. Hidup lo jadi berwarna. Ya nggak?’ aku memamerkan senyuman lebar lalu secepat kilat aku merubah ekspresiku menjadi ekspresi anak anjing tersesat. “Please, Yo? Pretty please? Lo barista paling oke di seluruh negeri deh.”
Satrio mencibir.
Aku masih memasang ekspresi yang sama. It’s about time. Pasti dia akan kasihan kok.
Akhirnya setelah beberapa saat, “Iya. Iya.” Satrio menyerah. “Nama panjangnya aja, kan?”
See? Bener kan?
“Weits, masa itu doang?” aku kembali nyengir. “Tanggung ah. Singgung-singgung dikit lah tentang gue. Terus cari info yang lebih dalam dong tentang dia.”
“Seperti?” Satrio mengangkat alisnya.
Aku mengangkat bahu. “Yah seperti—” aku menambah lebar senyuman. “—informasi apakah dia udah punya pacar atau belum.”
“Oh.” Satrio menampakkan ekspresi nggak tertarik. “Menurut lo mungkin nggak cowok kayak gitu nggak punya cewek?”
Eh? Oh iya juga sih.
“Nah,” Satrio kini tersenyum seolah-olah senang membuatku tersadar. “Lagi pula gue beberapa kali ngeliat ada cewek yang sering nunggu dia disini kalau sore. Terus mereka pulang bareng.”
Eh? EH? EHHH???
Seolah-olah nggak cukup hanya membuatku tersadar, Satrio juga membuatku tertampar. Aku mengerang dengan frustasi.
Rrrgghh, eligible guy,  Y U NO AVAILABLE??

[bersambung]



*Falling in Love at a Coffee Shop adalah lagu dari Landon Pigg



Read more!